Jumat, 10 Januari 2014

Kesalahan dalam Metode Eksperimen
Hal-hal yang mempengaruhi validitas internal dan eksternal dalam penelitian eksperimen, disebut "Extraneous Variables" adalah variabel selain variabel-variabel utama yang diteliti, yang mempengaruhi hasil akhir penelitian (kesimpulan) jika tidak dikontrol. Borg & Gall mengutip Campbell & Stanley (1963), lihat juga Malhorta (1977) menunjukkan ada 10 tipe variabel extrane­ous, yaitu:
1. History
2. Maturation
3. Testing
4. Instrumentation
5. Statistical regression
6. Differential selection
7. Experimental mortality
8. Selection-maturation interaction
 9. The John Henry Effect
10. Experimental treatment diffusion.

1. History. Pada penelitian yang membutuhkan waktu relatif lama, ada kemungkinan terjadi hal-hal yang mempengaruhi proses penelitian itu sehingga hasil akhir penelitian tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh (treatment) perlakuan, tetapi oleh hal-hal lain. Ketika terjadi kerusuhan di Indonesia pada tahun 1998 (yang menandai jatuhnya rejim Soeharto), banyak penelitian menjadi "kacau" karena terjadi perubahan-perubahan mendasar di segala bidang (ekonomi, politik, budaya, dan sebagainya).
2. Maturation. Pada saat penelitian berlangsung, ada kemungkinan para subjek yang diteliti mengalami "pendewasaan" (maturation). Mereka mungkin bertambah cerdas, bertambah terampil, lebih percaya diri dan sebagainya. Jadi, hasil penelitian lagi-lagi tidak hanya akibat dari treatment, tetapi juga dipengaruhi faktor maturation ini.
3. Testing. Dalam studi eksperimen yang menggunakan pretest dan postest, ada kemungkinan subjek menjadi lebih tahu tentang test (terutama postest), atau menjadi test wise. Maka, kalaupun ada kenaikan nilai test (post > pre). Hal ini mungkin lantaran subjek menjadi lebih pintar alias test wise. Bisa juga terjadi kualitas pre test tidak sama dengan kualitas post test. Misalnya post test lebih mudah dari pada pre test, maka wajar hasil post test lebih baik daripada hasil pre test-nya (lihat juga "instrumentation").

4. Instrumentation. Ini berhubungan dengan kualitas instrumen penelitian. Jika misalnya, pretest dibuat sangat sulit (tingkat kesukarannya tinggi), sedangkan postest dibuat dengan tingkat kesukaran lebih rendah (mungkin karena ketidaksengajaan) maka Jika pun hasil post > pre, hal ini bukan dari hasil treatment, tetapi dari kesalahan instrumen itu. Demikian pula bila kita telah menggunakan jenis instrumen. Misalnya, untuk mengukur kemampuan psikomotorik diperlukan tes yang bersifat kegiatan fisik ("melakukan suatu kegiatan"). Tetapi peneliti ternyata hanya menggunakan tes tertulis. Misalnya, bukan kemampuan psikomotorik yang diukur, tetapi kemampuan kognitif.

5. Statistical regression. Ini berhubungan dengan perhitungan statistik. Bila kita membandingkan dua kelompok (misalnya kelompok pengusaha kecil dan kelompok pengusaha menengah) dengan memperlakukan "treatment" yang sama (misalnya pengenalan terhadap manajemen usaha). Ternyata, setelah waktu tertentu, ada kecenderungan kelompok yang mendapat "gain" lebih besar adalah kelompok pengusaha kecil. Secara, "common sense" sebenarnya kita bisa mengerti bila suatu perubahan lebih mudah terlihat di konteks "kecil" dari pada melihat perubahan di konteks "yang lebih besar". Kenaikan Rp 1 juta ke Rp 2 juta adalah kenaikan 100%. Tetapi kenaikan yang sama, Rp 1 juta, dari Rp 1 milyar ke Rp 1.001.000.000,00 "hanya" 0,001%.

6. Differential selection. Dalam studi eksperimen yang membandingkan dua kelompok (kelompok A dan B), peneliti harus "mengatur" sedemikian rupa sehingga kelompok A sama dengan kelompok B sehingga perbandingan bisa dilakukan secara baik. Tetapi kadang-kadang karena satu dan lain hal, yang masuk ke kelompok A, misalnya, rata-rata lebih baik daripada yang dikelompok B. Maka, ketika dua kelompok ini dibandingkan di akhir penelitian, jelas sekali kelompok A lebih baik dari kelompok B. Ini bukan karena treatment, tetapi karena kesalahan pengelompokan.

7. Experimental mortality. Ini berhubungan dengan tingkat drop out subjek penelitian. Jika satu per satu subjek mengundurkan diri dari penelitian, lama-lama peneliti akan kekurangan subjek untuk diteliti. Mungkin secara kuantitas jumlahnya masih cukup. Tetapi bila profile subjek berubah drastis (kelompok tertentu masih banyak, kelompok lain sebagai kelompok pembanding katakanlah tinggal satu orang), penelitian praktis tidak mungkin dilanjutkan.

8. Selection-maturation interaction. Ini sama dengan nomor enam, tetapi satu kelompok menjalani "pendewasaan" yang lebih cepat daripada kelompok lainnya.

9. The John Henry Effect. Ini terjadi ketika kelompok kontrol (tidak diberi treatment) berperilaku lebih giat, lebih rajin, dan sebagainya, daripada kelompok eksperimen (kelompok yang diberi treatment). Hal ini mungkin terjadi karena, misalnya, kelompok kontrol merasa bahwa nantinya mereka akan "kalah" dibandingkan dengan kelompok eksperimen. Perasaan "kalah" semacam ini bisa memacu kelompok kontrol belajar dan bekerja lebih giat dari biasanya, katakanlah untuk membuktikan bahwa mereka sama baiknya dengan kelompok eksperimen.

10. Experimental Treatment Diffusion. Ini terjadi ketika kelompok kontrol "belajar" dari kelompok eksperimen, baik sengaja maupun tidak, Jadi, terjadi "perembesan" pembelajaran dari kelompok eksperimen ke kelompok kontrol.

Semua variabel yang berhubungan dengan fenomena di atas harus dikontrol oleh peneliti. Jika tidak, pasti akan terjadi kesalahan dalam pengambilan kesimpulan.
Apa yang dimaksud dengan "dikontrol" adalah diantisipasi sedini mungkin dan kemudian "dijaga" agar tidak mencemari proses eksperimen. Misalnya, agar tidak terjadi efek "Differential Selec­tion", maka dua kelompok harus dipilih secara acak (random) untuk mencapai pembagian yang fair. Agar tidak terjadi kesalahan karena faktor "Instrumentation" atau "testing", maka instrumen harus diuji berulang-ulang untuk mencapai validitas dan reliabilitas yang tinggi. Untuk menghindari "experiment mortality", peneliti harus melibatkan jumlah subjek yang cukup banyak. Dan sebagainya.
PROSES PENENTUAN CONTOH
SECARA SIMPLE RANDOM SAMPLING & STRATIFIED RANDOM SAMPLING

1.      Latar Belakang
           
            Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan  karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono. 2005 : 90).

            Sampel adalah sebagian dari populasi. Artinya tidak akan ada sampel jika tidak ada populasi. Populasi adalah keseluruhan elemen atau unsur yang akan kita teliti. Penelitian yang dilakukan atas seluruh elemen dinamakan sensus. Idealnya, agar hasil penelitiannya lebih bisa dipercaya, seorang peneliti harus melakukan sensus. Namun karena sesuatu hal peneliti bisa tidak meneliti keseluruhan elemen tadi, maka yang bisa dilakukannya adalah meneliti sebagian dari keseluruhan elemen atau unsur tadi.

            Secara umum, ada dua jenis teknik pengambilan sampel yaitu, sampel acak atau random sampling / probability sampling, dan sampel tidak acak atau nonrandom samping/nonprobability sampling. Yang dimaksud dengan random sampling adalah cara pengambilan sampel yang memberikan kesempatan yang sama untuk diambil kepada setiap elemen populasi. Artinya jika elemen populasinya ada 100 dan yang akan dijadikan sampel adalah 25, maka setiap elemen tersebut mempunyai kemungkinan 25/100 untuk bisa dipilih menjadi sampel. Sedangkan yang dimaksud dengan nonrandom sampling atau nonprobability sampling, setiap elemen populasi tidak mempunyai kemungkinan yang sama untuk dijadikan sampel. Lima elemen populasi dipilih sebagai sampel karena letaknya dekat dengan rumah peneliti, sedangkan yang lainnya, karena jauh, tidak dipilih; artinya kemungkinannya 0 (nol).

                        Pengambilan (Simple Random Sampling) sampel acak sederhana adl suatu cara pengambilan sampel dimana tiap unsur yg membentuk populasi diberi kesempatan yg sama utk terpilih menjadi sampel. Cara ini sangat mudah apabila telah terdapat daptar lengkap unsur-unsur populasi. Prosedur yg cukup akurat utk pengambilan sampel secara acak adl dgn menggunakan tabel angka acak (Table of random numbers)

2.      Tujuan

            Adapun yang menjadi tujuan dalam praktikum yang dilakukan, yaitu untuk mengetahui jumlah penghasilan setiap kepala keluarga yang tinggal di Kelurahan Merdeka, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang dengan menggunakan Sample Random Sampling dan Stratified Random Sampling.



3.      Masalah

            Pada praktikum ini, peneliti mengangkat masalah sebagai berikut :
Banyak kepala keluarga yang memiliki penghasilan atau pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga tetapi sulit sekali memberikan kontribusi dalam mendukung kebersihan lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka di Kelurahan Merdeka, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang.


4.      Hasil Praktek

Populasi                                   :
                                setiap kepala keluarga yang tinggal di Kelurahan                           Merdeka,         Kecamatan Kota Lama, Kota                                                 Kupang

Karakteristik Populasi             :
-          Setiap kepala keluarga yang tinggal di Kelurahan Merdeka, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang
-          setiap kepala keluarga yang tinggal di Kelurahan Merdeka, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang yang berpenghasilan diatas Rp. 1.500.000,-



kerangka Sampling

NO
Nama Kepala Keluarga
Pekerjaan
Penghasilan / bulan (Rp)
1
Bpk. John Adu
Wiraswasta
2.500.000,-
2
Bpk. Robby Adam
PNS
4.000.000,-
3
Bpk. Jimmy Siulima
Wiraswasta
2.500.000,-
4
Bpk. Ferdinand Kiuk
PNS
4.000.000,-
5
Bpk. Jhonny Kiuk
PNS
4.000.000,-
6
Bpk. Markus Ludji
Wiraswasta
3.500.000,-
7
Bpk. Jemmy Koelima
PNS
2.500.000,-
8
Bpk. Pieter Patandung
PNS
3.500.000,-
9
Bpk. Markus Adu
Wiraswasta
4.000.000,-
10
Bpk. Yusten Adu
Wiraswasta
2.500.000,-
11
Bpk. Ferry Sengge
PNS
1.750.000,-
12
Bpk. Jusuf Lotte
Pedagang
4.000.000,-
13
Bpk. Wellem Mbatu
PNS
1.750.000,-
14
Bpk. Deni Hawula
Pedagang
2.500.000,-
15
Bpk. Anies Adam
Wiraswasta
3.500.000,-
16
Bpk. Vecky Amalo
PNS
1.750.000,-
17
Bpk. Abraham Adu
PNS
2.500.000,-
18
Bpk. Roby Adu
PNS
1.750.000,-
19
Bpk. Barry Tupamahu
Wiraswasta
4.000.000,-
20
Bpk. Deny Salomons
PNS
3.500.000,-
21
Bpk. Jack Arnoldus
Pedagang
1.750.000,-
22
Bpk. Octavianus Adu
Pedagang
2.500.000,-
23
Bpk. Ruben Nguru
PNS
1.750.000,-
24
Bpk. Roby Bora’a
PNS
4.000.000,-
25
Bpk. Otniel Ruku
Pedagang
3.500.000,-
26
Bpk. Johny Fanggidae
Wiraswasta
1.750.000,-
27
Bpk. Jonathan Adu
PNS
2.500.000,-
28
Bpk. Jeremias Adu
PNS
3.500.000,-
29
Bpk. D. R. Thobiazs
PNS
1.750.000,-
30
Bpk. Stanies
Wiraswasta
4.000.000,-
31
Bpk. Jack Adam
Pedagang
1.750.000,-
32
Bpk. Deni Sinlae
PNS
4.000.000,-
33
Bpk. J. J. Amalo
PNS
1.750.000,-
34
Bpk. Paulus Sengge
PNS
2.500.000,-
35
Bpk. Hermanus Tahun
PNS
1.750.000,-
36
Bpk. Markus Sine
Wiraswasta
1.750.000,-
37
Bpk. Paulus
Pedagang
4.000.000,-
38
Bpk. Ande Sone
PNS
1.750.000,-
39
Bpk. Sipri Liunesi
Wiraswasta
3.500.000,-
40
Bpk. Yappy Amalo
PNS
2.500.000,-
41
Bpk. Yusten Adu
Pedagang
3.500.000,-
42
Bpk. Y. Pelonndou
PNS
3.500.000,-
43
Bpk. Johanes Ndaumanu
Wiraswasta
4.000.000,-
44
Bpk. Nino Nomleni
Pedagang
3.500.000,-
45
Bpk. Santos Arnoldus
PNS
3.500.000,-
46
Bpk. Yolsin Nalle
Pedagang
2.500.000,-
47
Bpk. Yohanes Pelendou
PNS
3.500.000,-
48
Bpk. Yoseph Nalley
Pedagang
3.500.000,-
49
Bpk. Ayub Kiuk
Wiraswasta
3.500.000,-
50
Bpk. Ande Kana
Pedagang
4.000.000,-

Menghitung besarnya sampel :
            Rumus            : n  
                                   
                                      n =  50/50.0,52 + 1
                                      n = 50/0,0025 + 1
                                      n = 40
dengan tingkat presisi sebesar 0,05 dan populasi sebanyak 50 maka sample yang harus diambil adalah sebanyak 40 sample.



Teknik Penerapan Simple Random Sampling

            Cara Penentuan Responden dengan Menggunakan Tabel Acak Maka didapat Responden: 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13,14,15,16,17,18,19,20,21,22,23,24,25,26,27,28,29,30,31,32,33,34,35,36,37,38,39,40,41,42,43,44,45,46,47,48, dan 49

            Dari hasil diatas, maka dapat dibuat tabel sebagai berikut :

NO
Nama Kepala Keluarga
Pekerjaan
Penghasilan / bulan (Rp)
1
Bpk. John Adu
Wiraswasta
2.500.000,-
2
Bpk. Robby Adam
PNS
4.000.000,-
3
Bpk. Jimmy Siulima
Wiraswasta
2.500.000,-
4
Bpk. Ferdinand Kiuk
PNS
4.000.000,-
5
Bpk. Jhonny Kiuk
PNS
4.000.000,-
6
Bpk. Markus Ludji
Wiraswasta
3.500.000,-
7
Bpk. Jemmy Koelima
PNS
2.500.000,-
8
Bpk. Pieter Patandung
PNS
3.500.000,-
9
Bpk. Markus Adu
Wiraswasta
4.000.000,-
10
Bpk. Yusten Adu
Wiraswasta
2.500.000,-
11
Bpk. Ferry Sengge
PNS
1.750.000,-
12
Bpk. Jusuf Lotte
Pedagang
4.000.000,-
13
Bpk. Wellem Mbatu
PNS
1.750.000,-
14
Bpk. Deni Hawula
Pedagang
2.500.000,-
15
Bpk. Anies Adam
Wiraswasta
3.500.000,-
16
Bpk. Vecky Amalo
PNS
1.750.000,-
17
Bpk. Abraham Adu
PNS
2.500.000,-
18
Bpk. Roby Adu
PNS
1.750.000,-
19
Bpk. Barry Tupamahu
Wiraswasta
4.000.000,-
20
Bpk. Deny Salomons
PNS
3.500.000,-
21
Bpk. Jack Arnoldus
Pedagang
1.750.000,-
22
Bpk. Octavianus Adu
Pedagang
2.500.000,-
23
Bpk. Ruben Nguru
PNS
1.750.000,-
24
Bpk. Roby Bora’a
PNS
4.000.000,-
25
Bpk. Otniel Ruku
Pedagang
3.500.000,-
26
Bpk. Johny Fanggidae
Wiraswasta
1.750.000,-
27
Bpk. Jonathan Adu
PNS
2.500.000,-
28
Bpk. Jeremias Adu
PNS
3.500.000,-
29
Bpk. D. R. Thobiazs
PNS
1.750.000,-
30
Bpk. Stanies
Wiraswasta
4.000.000,-
31
Bpk. Jack Adam
Pedagang
1.750.000,-
32
Bpk. Deni Sinlae
PNS
4.000.000,-
33
Bpk. J. J. Amalo
PNS
1.750.000,-
34
Bpk. Paulus Sengge
PNS
2.500.000,-
35
Bpk. Hermanus Tahun
PNS
1.750.000,-
36
Bpk. Markus Sine
Wiraswasta
1.750.000,-
37
Bpk. Paulus
Pedagang
4.000.000,-
38
Bpk. Ande Sone
PNS
1.750.000,-
39
Bpk. Sipri Liunesi
Wiraswasta
3.500.000,-
40
Bpk. Yappy Amalo
PNS
2.500.000,-
41
Bpk. Yusten Adu
Pedagang
3.500.000,-
42
Bpk. Y. Pelonndou
PNS
3.500.000,-
43
Bpk. Johanes Ndaumanu
Wiraswasta
4.000.000,-
44
Bpk. Nino Nomleni
Pedagang
3.500.000,-
45
Bpk. Santos Arnoldus
PNS
3.500.000,-
46
Bpk. Yolsin Nalle
Pedagang
2.500.000,-
47
Bpk. Yohanes Pelendou
PNS
3.500.000,-
48
Bpk. Yoseph Nalley
Pedagang
3.500.000,-
49
Bpk. Ayub Kiuk
Wiraswasta
3.500.000,-





REFERENSI


Jakarta 2002 widodo, metode penelitian kuantitatif, LPP UNS dan UNS Press, Surakarta 2009