Kabupaten Sumba Timur
merupakan salah satu Kabupaten dari Provinsi Nusa Tenggara Timur yang
memiliki produk pangan yang beragam. Salah satunya adalah “Manggulu”.
Manggulu merupakan salah satu makanan khas Sumba Timur
yang terbuat dari pisang yang telah dikeringan dengan cara dijemur dipanas
matahari. Makanan ini dikenal sangat sederhana, baik cara pembuatannya maupun
cara penyajiannya.
Bagi masyarakat pulau yang terkenal dengan sebutan pulau
Sandlewood, manggulu sudah bukan barang asing lagi karena makanan ini telah
diperkanalkan secara turun temurun oleh orang tua. Tetapi dengan berkembangnya
zaman, makanan-makanan lokal seperti manggulu semakin dilupakan karena semakin
banyak jenis-jenis makanan baru yang beredar dikalangan masyarakat.
Selain menjadi panganan khas Sumba, Manggulu juga
memiliki nilai historis. Ketika masa penjajahan, makanan manis itu sangat
disukai serdadu Belanda. Maenggulu selalu dibawa para serdadu Belanda ketika
masuk ke wilayah pelosok Sumba Timur, karena rasanya yang manis cukup ampuh
untuk menahan lapar.
Bahan dasar Manggulu sangat mudah didapat, yaitu pisang yang telah masak dan kacang tanah. Namun, proses pembuatannya cukup memakan waktu karena melalui proses alami. Pengupasan pisang hingga menjadi Manggulu membutuhkan waktu hingga dua pekan.
Menurut seorang pembuat Manggulu, Katarina, Manggulu dapat bertahan hingga enam bulan, karena bebas bahan pengawet. Satu kotak Manggulu dijual dengan harga Rp9 ribu hingga Rp 10 ribu.
Saat ini, Manggulu hanya diproduksi dalam jumlah kecil di industri rumahan. Namun, dodol Sumba itu ternyata cukup membantu ekonomi keluarga sebagian ibu-ibu di Sumba.
Bahan dasar Manggulu sangat mudah didapat, yaitu pisang yang telah masak dan kacang tanah. Namun, proses pembuatannya cukup memakan waktu karena melalui proses alami. Pengupasan pisang hingga menjadi Manggulu membutuhkan waktu hingga dua pekan.
Menurut seorang pembuat Manggulu, Katarina, Manggulu dapat bertahan hingga enam bulan, karena bebas bahan pengawet. Satu kotak Manggulu dijual dengan harga Rp9 ribu hingga Rp 10 ribu.
Saat ini, Manggulu hanya diproduksi dalam jumlah kecil di industri rumahan. Namun, dodol Sumba itu ternyata cukup membantu ekonomi keluarga sebagian ibu-ibu di Sumba.
Hal tersebut merupakan tantangan tersendiri bagi generasi
muda, seperti yang dikutip di Kompas.com, makanan khas asal Sumba ini memang masih ada. Namun keberadaannya mulai tergeser oleh
penganan dari luar. Selain karena produksinya terbatas, perubahan gaya
hidup masyarakat Sumba turut berpengaruh terhadap eksistensi dari produk
tersebut. Keterbatasan produksi disebabkan oleh proses pembuatannya yang
cukup memakan waktu.
Cara pembuatan manggulu sangat sederhana, yaitu dengan cara
sebagai berikut :
1. pisang kapok masak harus dikeringkan dahulu,
2. kacang tanah goreng dikeluarkan kulit arinya,
3. Kacang tanah kemudian ditumbuk. Demikian juga pisang masak kering,
4. Setelah kedua bahan ini halus, dicampur lalu dibentuk.
Kalau cara tradisional, pembentukan dengan menggunakan tangan. Namun belakangan pencampuran dan pembentukan bisa menggunakan mesin penggiling.
Kalau cara tradisional, pembentukan dengan menggunakan tangan. Namun belakangan pencampuran dan pembentukan bisa menggunakan mesin penggiling.
Sumba Timur
sebenarnya kaya akan penganan lokal. Namun gaungnya kalah dengan penganan dari
luar. Selain kemasan dan tampilan yang lebih menarik, pergeseran pola hidup
masyarakat di daerah itu turut berpengaruh terhadap eksistensi penganan lokal.
Masyarakat Sumba Timur lebih berkelas jika menenteng donat atau roti daripada Manggulu. Selain itu, promosi dan pencitraan pangan lokal yang masih terbatas membuat penganan ini tidak banyak dilirik oleh masyarakat Sumba Timur. Manggulu belum terkenal seperti kacang Sumba.
Jangankan untuk masyarakat luar, generasi Sumba saja bahkan sudah ada yang tidak mengenal Manggulu. Padahal kalau diperkenalkan terus-menerus, Manggulu bisa menjadi penganan yang diminati banyak orang karena rasanya khas.
Masyarakat Sumba Timur lebih berkelas jika menenteng donat atau roti daripada Manggulu. Selain itu, promosi dan pencitraan pangan lokal yang masih terbatas membuat penganan ini tidak banyak dilirik oleh masyarakat Sumba Timur. Manggulu belum terkenal seperti kacang Sumba.
Jangankan untuk masyarakat luar, generasi Sumba saja bahkan sudah ada yang tidak mengenal Manggulu. Padahal kalau diperkenalkan terus-menerus, Manggulu bisa menjadi penganan yang diminati banyak orang karena rasanya khas.
Oleh karena itu,kita sebagai generasi muda, patut peduli daam
melesarikan warisan kuliner
serta budaya yang telah diwarisi oleh Nenek moyang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar