Kamis, 05 Desember 2013

EKONOMI

MENGAPA PARA PAKAR EKONOMI SALING MENENTANG?
            Bila anda mendengarkan diskusi para pakar ekonomi, atau bila anda selalu membaca polemik mereka disurat kabar atau majalah-majalah, anda akan bekesimpulan bahwa para pakar ekonomi secara konstan saling tidak bersepakat. Memang, sering kali yang terjadi alasan untuk menolak nasehat akar ekonomi ialah karena merea sendiri jarang sampai pada mufakat bulat mengenai masalah apapun. Mengapa para ahli ekonomi tidak bersepakat dan apa yang harus kita lakukan ketika melihat kenyataan ini?
            Dalam artikel terakhir majalh Newsweek, Charles Wolf Jr. Mengemukakan empat alasan untuk ketidaksepakatan para pakar ekonomi tersebut : (1) para pakar ekonomi menggunakan pedoman yang berbeda, laju inflasi menurun dibandingkan dengan tahun yang lalu, tetapi melonjak dibandingkan dengan tahun 1950-an. (2) pakar eonomi tdak berhasil menjelaskan kepada masyarakat  apakah yang mereka bicarakan itu akibat jangka pendek atau jangka panjang : penurunan tarif pajak akan merangsang konsumsi dalam jangka pendek dan merangsang investasi dalam jangka panjang. (3) para pakar eknomi sering tidak mengakui ketidak becusan mereka. (4) setiap pakar ekonomi memiliki nilai yang berlainan  , dan pandangan normatif ini sangat berperan dalam setiap diskusi terbuka.
            Tentu saja, ada sebagian kebenaran dalam setiap alasan diatas. Akan tetapi juga ada alasan kelima, yaitu adanya kebutuhan untuk tidak bersepakat dikalangan masyarakat (Public’s Demand forDisagreement). Sebagai contoh, misalnya  semua pakar ekonomi setuju pada pernyataan bahwa serikat buruh bukanlah sebab pokok inflasi. Pendapat ni akan tidak mengenakkan sementara orang. Mereka yang bermusuhan dengan serikat buruh, misalnya, akan menyalahkan inflasi pada serikat buruh dan akan mencari seorang tokoh jara intelek. Ketenaran dan nasib jelek akn menunggu para akar ekonomi yang mendukung golongan ini, dan seorang tokoh barupun akan segera muncul.
            Ketidak sepakata memang ada, tetapi itu juga bisa saja dibesar-besarkan. Media massa adala sumber pokok pembesaran ketidakpastian ini. Bila suatu surat kabar memuat suatu masalah, biasanya mereka berusaha membuat kedua belah pihak yang berlawanan pendapat. Pada umumnya masyarakat ingin mendengarkan satu atau dua pakar ekonomi pada masing-masing pihak, tidak pedul apakah perbadaan pendapat itu tepat ditengah atau meragukan, dalam arti tidak tegas berada dipihak yang mana. Jadi, masyarakat tidak tahu apakah dalam hal tertentu penulis berita telah mewawancarai selusin pakar ekonomi untuk dikelompokkan dalam satu pihak. Sementara itu, dalam peristiwa yang lain lagi, penulis berita tersebut menghabiskan tiga hari penuh untuk menemukan seseorang untuk menemukan seseorang yang bersedia berdiri disatu pihak tertentu karena hampir semua pakar ekonomi yang telah dihubungi menyatakan bahwa pendapat tertentu adalah salah. Daam banyak isyu, para profesional mendukung satu pihak. Aka tetapi untuk penyajian keda kelompok pendpat tersebut, media massa menyahjikan ulasan dengan perbedaan pendapat yang berimbang.
            Dengan demikian, siapapun yang berusaha mediskreditkan nasihat pakar ekonomi dengan jalam memerlihatkan ketidak setujuan mereka tidak akan mengalami kesulitan mendapatkan buki-bukti yang mendukung pendapatnya. Naunmereka yang ingin mengetahui apakah pandangan tertetu merupaka suara mayoritas atau bahkan konsensus bulat, akan terperangah melihat begitu banyak masalah, seperti misalnya terdapat kekurangn perumahan disebabkan oleh peraturan persewaha rumah, dan peraturan upah minimum.

            Tentu saja ada jenis ketidaksepakatan yang memang murni dakalangan para pakar ekonomi terhadap banyak masalah , terutama menyangkut peristiwa eristiwa terakhir, dan yang sepenuhnya tidak dimengerti. Dan akan selalu ada kontroversi mengenai hal-ha yang meragukan dalam hasil-hasil penelitian.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar