MENGAPA
PARA PAKAR EKONOMI SALING MENENTANG
Bila anda mendengarkan diskusi para pakar ekonomi, atau
bila anda selalu membaca polemik mereka disurat kabar atau majalah-majalah,
anda akan bekesimpulan bahwa para pakar ekonomi secara konstan saling tidak
bersepakat. Memang, sering kali yang terjadi alasan untuk menolak nasehat akar
ekonomi ialah karena merea sendiri jarang sampai pada mufakat bulat mengenai
masalah apapun. Mengapa para ahli ekonomi tidak bersepakat dan apa yang harus
kita lakukan ketika melihat kenyataan ini?
Dalam artikel terakhir majalh Newsweek, Charles Wolf Jr. Mengemukakan empat alasan untuk
ketidaksepakatan para pakar ekonomi tersebut : (1) para pakar ekonomi
menggunakan pedoman yang berbeda, laju inflasi menurun dibandingkan dengan
tahun yang lalu, tetapi melonjak dibandingkan dengan tahun 1950-an. (2) pakar
eonomi tdak berhasil menjelaskan kepada masyarakat apakah yang mereka bicarakan itu akibat jangka
pendek atau jangka panjang : penurunan tarif pajak akan merangsang konsumsi
dalam jangka pendek dan merangsang investasi dalam jangka panjang. (3) para
pakar eknomi sering tidak mengakui ketidak becusan mereka. (4) setiap pakar
ekonomi memiliki nilai yang berlainan ,
dan pandangan normatif ini sangat berperan dalam setiap diskusi terbuka.
Tentu saja, ada sebagian kebenaran dalam setiap alasan
diatas. Akan tetapi juga ada alasan kelima, yaitu adanya kebutuhan untuk tidak
bersepakat dikalangan masyarakat (Public’s
Demand forDisagreement). Sebagai contoh, misalnya semua pakar ekonomi setuju pada pernyataan
bahwa serikat buruh bukanlah sebab pokok inflasi. Pendapat ni akan tidak
mengenakkan sementara orang. Mereka yang bermusuhan dengan serikat buruh,
misalnya, akan menyalahkan inflasi pada serikat buruh dan akan mencari seorang
tokoh jara intelek. Ketenaran dan nasib jelek akn menunggu para akar ekonomi
yang mendukung golongan ini, dan seorang tokoh barupun akan segera muncul.
Ketidak sepakata memang ada, tetapi itu juga bisa saja
dibesar-besarkan. Media massa adala sumber pokok pembesaran ketidakpastian ini.
Bila suatu surat kabar memuat suatu masalah, biasanya mereka berusaha membuat
kedua belah pihak yang berlawanan pendapat. Pada umumnya masyarakat ingin
mendengarkan satu atau dua pakar ekonomi pada masing-masing pihak, tidak pedul
apakah perbadaan pendapat itu tepat ditengah atau meragukan, dalam arti tidak
tegas berada dipihak yang mana. Jadi, masyarakat tidak tahu apakah dalam hal
tertentu penulis berita telah mewawancarai selusin pakar ekonomi untuk
dikelompokkan dalam satu pihak. Sementara itu, dalam peristiwa yang lain lagi,
penulis berita tersebut menghabiskan tiga hari penuh untuk menemukan seseorang
untuk menemukan seseorang yang bersedia berdiri disatu pihak tertentu karena
hampir semua pakar ekonomi yang telah dihubungi menyatakan bahwa pendapat
tertentu adalah salah. Daam banyak isyu, para profesional mendukung satu pihak.
Aka tetapi untuk penyajian keda kelompok pendpat tersebut, media massa menyahjikan
ulasan dengan perbedaan pendapat yang berimbang.
Dengan demikian, siapapun yang berusaha mediskreditkan
nasihat pakar ekonomi dengan jalam memerlihatkan ketidak setujuan mereka tidak
akan mengalami kesulitan mendapatkan buki-bukti yang mendukung pendapatnya. Naunmereka
yang ingin mengetahui apakah pandangan tertetu merupaka suara mayoritas atau
bahkan konsensus bulat, akan terperangah melihat begitu banyak masalah, seperti
misalnya terdapat kekurangn perumahan disebabkan oleh peraturan persewaha
rumah, dan peraturan upah minimum.
Tentu saja ada jenis ketidaksepakatan yang memang murni
dakalangan para pakar ekonomi terhadap banyak masalah , terutama menyangkut
peristiwa eristiwa terakhir, dan yang sepenuhnya tidak dimengerti. Dan akan
selalu ada kontroversi mengenai hal-ha yang meragukan dalam hasil-hasil
penelitian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar